Masjid Agung Palembang: Masjid Indah Menggabungkan Tiga Budaya

H. Abdul Hamid (Ki Marogan), sebagai ilmuwan dan pengusaha yang sukses, berencana untuk membangun masjid baru di kota Palembang. Rencana ini diwujudkan pada tahun 1871 dan 1881, di mana Ki Marogan membangun dua masjid.

Masjid Agung Palembang: Masjid Indah Menggabungkan Tiga Budaya

Masjid Agung Palembang berisi kenangan yang tak terlupakan sepanjang masa dan dengan kenanagan tersebut maka sampai saat ini masjid ini pun tidak di bangun Kubah Masjid,karena ingin menjaga tradisi tersbeut.

Masjid ini juga sebuauh saksi bisu bagi perjuangan rakyat Palembang dalam pertempuran lima hari melawan Belanda di pusat kota. Hari berikutnya Belanda mundur dengan kekuatan penuh ke pusat komando Republik Indonesia di Masjid Agung Palembang.

Masjid Agung Palembang adalah bagian dari warisan Kesultanan Palembang Darussalam dan merupakan salah satu masjid tertua di Palembang. Bentuk Masjid Lawang Kidul hampir sama dengan bentuk Masjid Agung Palembang, tetapi dengan ukuran lebih kecil. Keunikan dapat ditemukan di menara Masjid Lawang Kidul, yang telah mempertahankan bentuknya yang unik sejauh ini. Bentuk atap dalam bentuk empat piramida persegi panjang yang tumpang tindih dua tingkat. Di atap, ia memiliki tanduk yang hampir sama di atap Masjid Agung Palembang yang mengambil bentuk Masjid Hunan di Cina.

Tapi itu juga salah satu masjid yang membanggakan, tidak hanya warga Palembang, tetapi masyarakat provinsi Sumatera Selatan. Menurut sejarah, masjid itu disebut Masjid Sultan dan masjid terbesar di Indonesia.

Meletakkan batu fondasi pada 1738 dan pelantikannya pada Senin 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Sedangkan bangunan aslinya adalah bangunan tua yang telah dilestarikan sejak awal. Sedangkan bangunan lainnya adalah bangunan baru dan telah direnovasi beberapa kali untuk berkembang karena bertambahnya jumlah jamaah.

Batalion Geni menutup barisan bersama dengan beberapa tokoh masyarakat untuk melindungi masjid dari kehancuran. Pejuang Republik berhasil selamat, tentara Belanda menarik diri karena kurangnya pasokan.

Perjanjian ini berarti berakhirnya pendudukan Belanda atas wilayah kota Palembang. adalah masjid terbesar di kota Palembang, dengan luas sekitar 15.400 M2. Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Baddaruddin I, juga dikenal sebagai Jayo Wikramo (tahun).

Kemudian, di depan menara Masjid Lawang Kidul, dibuat sangat unik dan menarik. Pesatnya pertumbuhan komunitas Muslim Palembang pada saat itu tidak diiringi dengan pertumbuhan layanan ibadah (masjid). Masjid Agung Palembang adalah satu-satunya masjid jami di Palembang pada saat itu, yang berarti bahwa hanya Masjid Agung yang dapat digunakan sebagai tempat sholat Jum’at di Palembang. Mengingat meningkatnya jumlah umat Islam di kota Palembang, Mgs.

Peran para sarjana ini sangat besar dalam perkembangan Islam di Kesultanan Palembang. Konsep pendidikan Islam terungkap dalam lingkup amal (praktik) dan sains (wacana) sehingga mudah diterima dan dipraktikkan oleh komunitas Muslim Palembang. Masjid Agung Palembang juga merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Masjid Agung Palembang, bukan hanya masjid tertua dan bersejarah.

Pada 22 Januari 1970, pembangunan menara baru dimulai, disponsori oleh Pertamina. Menara baru setinggi 45 meter ini, yang menyertai menara bergaya Cina asli, ditugaskan pada 1 Februari 1971. Pembangunan masjid baru memakan waktu yang cukup lama, hingga 26 Mei 1748 atau 28 Jumadil. Pada awal 1151 tahun Hijriah, masjid ini didedikasikan.

Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Pada hari kelima, bala bantuan dari pasukan Republik yang hendak akan bergabung di Masjid Agung Palembang ketika itu sudah dihadang oleh peleton dari  pasukan Belanda di wilayah sekitar Simpang Empat BPM, Sekanak dan Kantor Karesidenan.

Bangunan masjid direnovasi beberapa kali, terutama pada tahun 2000. Karena bentuknya, Masjid Agung Palembang memiliki campuran khas tiga budaya, yaitu budaya Indonesia, Eropa dan Cina. Masjid Agung adalah masjid tua yang sangat penting dalam sejarah Palembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *